Kamis, 12-12-2019,  

Home   Pengumuman  Foto  Video  Situs Terkait  Kritik & Saran  Kontak


  Ikuti kami di Selamat datang di website Balitbangda Kabupaten Balangan
 
0 1 2


Foto Kegiatan


Bank Data


Download Center

Berita dan Kegiatan


Workshop Karya Tulis Ilmiah dengan Tema “Best Practice Penyelesaian Masalah Pembelajaran”

Balitbangda mengemas pelatihan karya tulis ilmiah penulisan best practice ke dalam sebuat acara workshop yang dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 26 Juni 2019 di Aula Dinas Pendidikan dengan Narasumber Bp. H. Suparlan, M.Pd (Pengawas SMA/SMK Disdikbud Provinsi Kalimantan Selatan) dan Bp. Zaenal Fanani, M.Ed (LPMP Provinsi Kalimantan Selatan) dengan moderator Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Drs. HM.Hifni Effendi, M.AP. Pada workshop ini disampaikan beberapa informasi penting diantaranya sebagaimana disampaikan oleh Bp. Zainal Fanani, M.Ed yang menjelaskan mengenai Pengembangan Profesi Pengawas Sekolah, Pengertian Best Practice, kedudukan best practice di dalam KTI, Ciri-ciri Best Practice dan  Alur penyusunan Best Practice, Karya Tulis Ilmiah lain yang dapat dikembangkan berdasarkan laporan Best Practice, dan Sistematika laporan Best Practice.

 Bp.H.Suparlan pengawas SMA/SMK lebih pada memberikan contoh panduan penyusunan best practice, strategi menulis best practice, dan beberapa success story pengawas sekolah dalam menulis best pratice. Acara dilanjutkan dengan lebih banyak sesi diskusi dan tanya jawab oleh peserta workshop. Beberapa pertanyaan diantaranya adalah apa saja kiat-kiat menghadapi tim penilai lomba karya tulis ilmiah? Jawab: Kenali lingkungan presentase, salah satu cara dengan datang lebih awal dan duduk di kursi paling pojok bagian depan dengan sesekali melihat ke belakang dengan begitu sebelum melakukan presentase sudah terbiasa menatap audiens; mngikuti pedoman penilaian dan ketentuan dari penyelenggara lomba seoptimal mungkin.

Salah satu ciri best practice adalah bersifat outstanding result. Bagaimana batasan luar biasa yang bisa dimasukkan dalam best practice? jawab: Berbicara best practice tentunya sangat subjektif tetapi paling tidak, bisa kita mulai dari diri kita sendiri. Percaya diri dan hargai karya tulis kita sendiri. Bagaimana cara pelaksanaan metode eksperimen dalam pembelajaran? Jawab: Kelas dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok I, lakukan metode tanpa ujian. Kelompok II, berikan tugas belajar di perpustakaan dan sebaliknya. Karakteristik masing-masing kelompok harus sama persis misal jumlah siswa pintar harus sama dimasing-masing kelompok. Lakukan test dalam waktu yang singkat saja. Lakukan uji t tehadap hasil post test saja, tidak perlu dengan pre test.  Untuk metode yang dicontohkan, mungkin hanya bisa dilakukan untuk siswa SD saja oleh guru kelas. Sedangkan untuk guru mata pelajaran, hal ini tidak bisa dilakukan terhadap dua kelompok yang berbeda pada rentang waktu yang sama. Apakah bisa untuk kelompok yang satunya, pengujian dilakukan pada saat jam pelajaran minggu berikutnya? jawab: Bisa saja, asalkan pengujian dilakukan pada jam yang sama walaupun pada minggu yang berbeda.       Apakah bisa pengujian dilakukan di 2 kelas yang berbeda? jawab: Untuk guru yang mengajar paralel, misal mengajar kelas A dan B, pastikan kedua kelas memiliki karakteristik yang sama (jumlah siswa pintar yang sama). Saat di test dengan soal yang sama, cenderung akan memiliki rata-rata yang sama di awal. Gunanya pre test hanya untuk memastikan dua kelompok ini identik (nilai rata-rata sama). Jika nilai rata-rata tidak sama, lakukan penggabungan siswa pada 2 kelas tersebut untuk kemudian diacak dan dipilih.

Masih agak bingung dengan eksperiment apalagi untuk diterapkan di sekolah-sekolah yang menggunakan sistem pak seperti SMP dan SMA. Untuk eksperiment ini harus imbang antara kelompok A dan B, masalah waktu pengujian juga. Apakah bisa jika dilakukan diluar kegiatan pembelajaran tetapi disetting seolah-olah saat sedang dalam kegiatan pembelajaran?. Jawab: Bisa saja dilakukan diluar kegiatan pembelajaran asalkan karakteristik, kondisi dan waktu pengujian sama. Terkait kuasi eksperiment (tidak ada pembanding), masih agak membingungkan karena hasil eksperiment harus ada pembanding untuk melihat apakah ada pengaruh perbedaan perlakuan, bagaimana cara mengetahui hasil dari formulasi yang kita terapkan kepada yang menerima perlakuan?. Jawab: Untuk kuasi eksperiment/eksperimen semu sama dengan penelitian tindakan kelas, tidak ada pembanding. Pengujian dilakukan pada kelompok yang sama, hanya membandingkan hasil pre test dan post test saja. Misalnya di sekolah ada dalam hal pembinaan kegiatan seni, lalu diangkat menjadi semacam laporan, apakah ini bisa dikatakan sebagai salah satu best practice?Jawab: Harus ada definisi “luar biasa” dari best practice. Best practice harus mampu membawa    sebuah perubahan/perbedaan dan mampu mengatasi persoalan tertentu secara berkelanjutan atau dampak dan manfaatnya berkelanjutan.

Diharapkan output workshop penulisan best practice dengan Tema “Best Practice Penyelesaian Masalah Pembelajaran” bisa tercapai yakni jumlah peserta workshop yang memahami dan bisa membuat laporan best practice, jumlah peserta workshop yang bisa mengikuti lomba penulisan best practice yang akan diselenggarakan bulan Oktober – Desember oleh Balitbangda Balangan, yang mana menjadi media latihan, koreksi dan melatih kemampuan menulis best practice tenaga pendidik dan kependidikan di Kabupaten Balangan.


  Hits (17)    Waktu :07-10-2019 (15:27:38)   Komentar (0)

Komentar
Alamat Email
Komentar

Tidak ada komentar
Hal