Jumat, 24-05-2019,  

Home   Pengumuman  Foto  Video  Situs Terkait  Kritik & Saran  Kontak


  Ikuti kami di Selamat datang di website Balitbangda Kabupaten Balangan
 
0 1 2


Foto Kegiatan


Bank Data


Download Center

Berita dan Kegiatan


Ekspose Laporan Pendahuluan Kajian Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peningkatan Kasus Kekerasan terhadap Anak di Kabupaten Balangan

Acara diskusi laporan pendahuluan adalah bagian dari Focus Group Discussion “Kajian Faktor-faktor yang mempengaruhi Peningkatan Kasus Kekerasan terhadap Anak di Kabupaten Balangan”  dalam rangka menghimpun ide, masukan, saran, dan informasi data terkait dengan penelitian tersebut.
Acara dihadiri perwakilan dari tim peneliti dari  Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lambung Mangkurat, Bapak Budi Suryadi, Bapak. Husen Abdurahman, Ibu Varinia Pura Damaiyanti, dan Ibu Syahrida. Acara ini dimoderatori oleh Kepala Balitbangda Kab. Balangan, Bapak Drs. H. M. Hifni Effendi, M.AP.
Undangan yang hadir antara lain perwakilan dari:  Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Badan Kesbangpol, BLK Kab. Balangan, Bappeda, Unit PPA Satreskrim Polres Kab. Balangan, Kejaksaan Negeri Kab. Balangan, Kemenag, Bag. Hukum Setda, BNN Kab. Balangan, RSUD Balangan, dan pengurus panti asuhan Nurul Iman.
Acara ekspose diawali dengan paparan dari tim peneliti mulai dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teori dan metode penelitian. Pada ekspose laporan pendahuluan ini sangat diharapkan masukan dan saran dari peserta ekspose untuk kesempurnaan “Kajian Faktor-faktor yang mempengaruhi Peningkatan Kasus Kekerasan terhadap Anak di Kabupaten Balangan”.
Dilanjutkan dengan pertanyaan dan masukan dari undangan.
  1. Ibu Mulidiah (Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak, DP3A).
    • - Kasus kekerasan anak merupakan suatu fenomena gunung es, yang terlaporkan hanya 6 kasus, padahal yang tidak terlaporkan kami yakin lebih banyak lagi.
    • - Harus ada batasan penelitian bahwa anak yang dimaksud adalah anak usia sekolah.
    • - Kalau memungkinan, tidak hanya kepala sekolah dan guru BP yang dijadikan sampel tapi juga melibatkan  wali kelas.
    • - Di Kabupaten Balangan ada 117 SD, 24 SMP, dan 11 SLTA, berharap sampel bisa mewakili desa, kota, dan kecamatan sehingga dapat menggambarkan secara umum keadaan di Kab. Balangan. Mungkin sistemnya nanti cluster random sampling.
    • - Desain penelitian cross sectional saja dengan menyebarkan kuesioner, namun harus dibatasi bahwa untuk anak-anak SD yang belum bisa membaca, harus ditanyakan saja langsung oleh surveyor untuk menghindari bias penelitian.
    • - Untuk variabel independen kebijakan pemerintah harus dibatasi juga karena mungkin akan terlalu luas.
    • - Dari 10 kasus yang terlaporkan, 6 kasus diantaranya adalah kasus kekerasan seksual. Jadi kalau bisa, untuk kasus kekerasan seksual juga dimasukkan kedalam penelitian.
    • - Selama ini Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak hanya membentuk tim fasilitasi P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak) sedangkan dalam peraturan Menteri Perlindungan Perempuan dan Anak No. 14 Tahun 2018 bahwa dalam penanganan kasus perlindungan perempuan dan anak disyaratkan untuk membentuk UPTD.Jadi kami berharap hasil kajian ini nantinya dapat menjadi acuan dan penguat untuk membentuk UPTD.
    • - Diharapkan kuesionernya nanti juga dapat menjawab kasus kekerasan anak yang terjadi di dalam keluarga, tidak hanya dilingkungan sekolah saja.
    Tanggapan pihak peneliti:
    • - Wali kelas akan dijadikan sampel juga.
    • - Kuesioner tidak akan disebar, akan ditanyakan langsung oleh surveyor. Skala Likert akan disederhanakan saja (jawaban sangat setuju, sangat tidak setuju akan dihilangkan).
    • - Untuk penelitian kualitatif jumlah sampel minimal 30, nanti didiskusikan lagi untuk jumlah sampel yang akan diteliti. Untuk tingkat SMA biasanya tingkat kekerasan anaknya menurun, jadi mungkin nanti proporsi sampel anak SD dan SMP akan lebih banyak.

        
  2. Ibu Khairunnisa (SMPN 3 Paringin)
    •     
    • - Dilihat dari judul “peningkatan kasus kekerasan” berarti terjadi kecenderungan meningkat setiap tahun, sedangkan disini data yang ditampilkan hanya data tahun 2017 yaitu 10 kasus.
    •     
    • - Kami pernah mengadakan survey di SMPN 3 Paringin, sekitar 68% siswa mengalami kekerasan fisik berat (dipukul dengan parang, dipukul dengan kayu bakar, dll) dan kebanyakan terjadi dilingkungan keluarga (hanya 2-3% yang terjadi di sekolah), ketika ditelusuri ternyata alasan si anak dipukul karena si anak sendiri nakal (misalnya menggunakan obat-obatan terlarang), jadi bagaimana nanti agar tidak bias. Untuk melihat faktor kekerasan anak ini perlu sekali melihat pola anak dirumah.
    Tanggapan pihak peneliti:    
          
    • - Fokus lokasi penelitian ini adalah tetap pada lembaga pendidikan karena disana ada sistem (kewenangan, guru, dll), karena kalau dirumah hanya unit kecil keluarga. Akan tetapi nanti kekerasan pada anak dirumah akan terlihat karena anak yang mengalami kekerasan di keluarga memiliki kecenderungan menularkannya ke sekolah.
    •     
    • - Kekerasan pada anak tidak hanya terpaku pada angka, karena persoalan konteks sosial budaya (malu untuk bercerita, malu untuk lapor)  menyebabkan banyak kasus kekerasan anak yang tidak muncul.
    •     
    • - Untuk menghindari bias, tidak hanya melihat bahwa anak mengalami tindak kekerasan, tetapi juga perlu melihat alasan mengapa si pelaku kekerasan melakukan itu. Dalam konteks keilmuan, sebenarnya alasan dan kenakalan apapun yang dilakukan oleh anak tetap saja tidak boleh mendapatkan kekerasan, tetapi untuk collecting data nanti dikuesioner tetap akan ditanyakan penyebab dilakukannya kekerasan.
    •     
    • - Persoalan kekerasan seksual, kami juga ingin mengarah kesitu tetapi yang dikhawatirkan data itu nanti tidak bisa muncul (si anak malu untuk bercerita). Untuk kekerasan seksual, pendekatan kuantitatif survei agak kurang pas, akan lebih pas dengan pendekatan kualitatif (personal) dan ini sangat membutuhkan keterampilan surveyor untuk membangun hubungan baik dengan si anak sehingga si anak mau untuk bercerita.
  3. Ibu Ainani (Sekretaris DP3A)
    •     
    • -    Lokasi penelitian sebaiknya tidak hanya di lembaga pendidikan tetapi juga di lingkungan keluarga. Untuk sampel mohon diambil dari desa terpencil yang mungkin pengalaman orangtuanya sangat minim dan pendidikan yang rendah.
    • Tambahan Ibu Mulidiah:     
    • - Sampelnya tetap anak sekolah tetapi di kuesionernya juga menggali kekerasan yang terjadi dirumah. Bukan menggali langsung ke keluarga.
    •     
    • - Kami berharap untuk kekerasan seksual tetap dimunculkan di kajian ini. Kebanyakan anak tidak menyadari bahwa dia mengalami pelecehan seksual.
  4. Bapak Arbain (Bappeda)
    •     
    • - Sangat mendukung kajian ini untuk meminimalisir terjadi kasus kekerasan terhadap anak.
    Tanggapan peneliti:    
              
    • - Pendekatan perlindungan anak tidak lagi harus parsial tetapi menggunakan pendekatan sistematis.
    •     
  5. Ibu Novita (Kejaksaan Negeri Kab. Balangan)
  6.    
    • - Di tahun 2017 ad 12 perkara anak yang berhadapan dengan hukum. Anak sebagai korban ada 6 perkara (2017), anak sebagai pelaku ada 6 perkara (2018). Kebanyakan kasus yang masuk di dominasi oleh kasus kekerasan seksual. Perkara anak yang masuk ke kejaksaan kebanyakan terjadi karena latar belakang keluarga yang broken home dan kesulitan ekonomi.
    •     
  7. Bapak Faisal (Kanit PPA Polres Balangan)
  8.    
    • - Kekerasan seksual pada anak memang mendominasi dari kasus-kasus yang diajukan.
    •         
    • - Sangat mengapresiasi dilakukannya kajian ini.
    •     
  9. Ibu Dwi Laksmi (BNNK Balangan)
  10.     
              
    • - Dari beberapa pengguna, ada yang dilatarbelakangi oleh paksaan orangtua untuk menggunakan obat-obatan terlarang tersebut.
    •         
    • -    Apakah eksploitasi pada anak disekolah oleh guru (siswa disuruh melakukan hal-hal yang bukan tugas murid, untuk kepentingan guru) termasuk salah satu bentuk kekerasan?
    •     
    Tanggapan    
              
    • - Kita tidak bisa menggeneralisir semua hal misalnya guru menyuruh apa ke murid itu  untuk kepentingan guru sebagai eksploitasi atau tidak. Harus melihat dulu motifnya apa, jika hanya sekedar meminta anak melakukan sesuatu yang tujuan/fungsinya untuk mendidik anak tidak bisa dikatakan eksploitasi. Kalau ada unsur motif ekonomi, bisa jadi dikatakan sebagai eksploitasi dan itu merupakan salah satu bentuk kekerasan.
    •     
Kesimpulan:
  1. Fokus penelitian ke lembaga pendidikan tetapi dalam wawancara nanti tetap digali sampai lingkungan keluarga.
  2. Batasan siswa yang diwawancarai: siswa yang jarang hadir, siswa yang berhenti sekolah baru-baru ini, siswa yang punya masalah, siswa yang memiliki kekurangan fisik/berkebutuhan khusus (sebagai tambahan).

  Hits (24)    Waktu :29-03-2019 (09:17:37)   Komentar (0)

Komentar
Alamat Email
Komentar

Tidak ada komentar
Hal