Jumat, 24-05-2019,  

Home   Pengumuman  Foto  Video  Situs Terkait  Kritik & Saran  Kontak


  Ikuti kami di Selamat datang di website Balitbangda Kabupaten Balangan
 
0 1 2


Foto Kegiatan


Bank Data


Download Center

Berita dan Kegiatan


Peningkatan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Balangan

Pada hari ini, Kamis, tanggal Empat bulan Oktober tahun Dua Ribu Delapan Belas di Ruang Rapat Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Balangan telah diselenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Peningkatan UMKM di Kabupaten Balangan” yang dihadiri oleh pemangku kepentingan sesuai dengan daftar hadir peserta yang tercantum dalam lampiran I berita acara ini

Setelah memperhatikan, mendengarkan, dan mempertimbangkan :

1.       Sambutan sekaligus pembukaan acara FGD oleh Kepala Balitbangda Kabupaten Balangan Dr. Akhriani, S.Pd, M.AP, yang memberikan pengantar berupa :

a. Latar belakang dari FGD adalah tidak lain sebagai bentuk diskusi fokus untuk merumuskan alternatif pemecahan masalah pengembangan UMKM di Kabupaten Balangan, setelah beberapa FGD sebelumnya yakni mengenai pertumbuhan ekonomi, penyelesaian permasalahan pasar, pengembangan pariwisata, dll.

b. Pertumbuhan ekonomi Balangan adalah 3% terendah di Kabupaten Kota se Kalsel, diharapkan bisa mengadopsi HSU yang mempunyai pertumbuhan ekonomi 5,5% (mengandalkan sektor jasa dan perdagangan). Balangan yang punya potensi SDA termasuk kontribusi 80% oleh pertambangan, kita tidak boleh terlena dan sudah harus ada sektor untuk membackup apabila kita ditinggalkan sektor pertambangan. Ekonomi kreatif dengan ribuan pelaku ekonomi diharapkan bisa menyerap 80% tenaga kerja.

c. Bagaimana bisa meningkatkan nilai tambah bagi sebuah produk daerah, karena nilai tambah inilah bentuk peningkatan PDRB daerah.

2.     Paparan materi dengan judul Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) di Kabupaten Balangan yang dipaparkan oleh Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro/Kecil dan Perindustrian Kabupaten Balangan Bapak H. Mukhlis Suriani, ST yang menjelaskan mengenai

a.       Latar belakang Pengembangan Ekonomi Lokal, pengembangan UKM/ IKM

Pengembangan ekonomi kerakyatan sesuai dengan misi nomor 2 Bupati Balangan. UMKM di Balangan sekitar 4.000-an pelaku usaha. IKM adalah produsen, UKM adalah pemasarannya. Industri kreatif yang sudah dilaksanakan, karena belum ada industri besar (keinginan ada pabrik karet). Ada kecolongan, bahan baku karet kita dikirim ke Pontianak. Di inacraft produk Balangan sangat diminati oleh orang luar negeri, anyaman bamban, purun terutama yang original/ polos/ tidak bermotif, fashion show dengan memamerkan tas purun dan bamban. Pemerintah daerah sangat mendukung dalam pengembangan sasirangan (memakai motif dan produksi 4 pengrajin sasirangan di moment Hari Jadi Balangan).

b.       Tujuan dan sasaran

Mengidentifikasi dan menginventarisir potensi daerah untuk melakukan pengembangan usaha; mengembangkan ekonomi kerakyatan melalui Usaha Kecil dan menengah berbasis pada potensi Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam bertumpu kepada mekanisme pasar; mempercepat pertumbuhan dan peningkatan daya saing dan penyerapan tenaga kerja sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat


c.       Potensi produk melalui pengembangan ekonomi lokal

Sebaiknya tidak mencontoh produk orang, ide original.

d.       Kriteria Pengembangan produk UKM/IKM

Merupakan produk khas daerah, berbasis pada sumber daya lokal, memiliki penampilan dan kualitas produk yang sesuai dengan tuntutan pasar, memiliki peluang pasar yang luas, baik domestik maupun internasional, memiliki Nilai ekonomi yang tinggi, bisa menjadi penghela bagi perekonomian daerah.

e.       Ruang Lingkup Pengembangan dan karakteristik produk UKM/ IKM

Kajian pemetaan IKM tahun 2014 oleh Adaro, dengan temuan
-  SDM pelaku UKM yakni kinerja perseorangan, manajemen pengelolaan, kesadaran perlunya akuntansi, kurang motivasi pengembangan diri
-  promosi dan pemasaran (lokasi usaha yang kurang strategis, transportasi kurang, kendala telekomunikasi, minimnya sarana promosi, branding
-  permodalan (koperasi di Kandangan anti riba dan anti ijon), kendala pinjaman di lembaga keuangan karena legalitas pelaku UKM belum lengkap, kesulitan dalam mengembalikan modal, pajak umkm 0,5%, bunga kredit pinjaman lunak
-  sarana dan prasarana belum terstandarisasi
-  harga produk relatif mahal
-  belum menerapkan manajemen stok bahan baku
-  teknologi masih tradisional
-  desain dan kemasan kurang menarik
Masing-masing SKPD memiliki binaan sendiri, namun pendampingan tidak kontinyu. Pembinaan dari Adaro semakin diperluas dan diperbanyak, sehingga masyarakat semakin siap ekonomi pasca kegiatan pertambangan.


f. Perlunya komitmen stakeholder menggunakan kain sasirangan untuk setiap level, di kantor, seragam sekolah.

g.    Di bidang industri masih melakukan pendampingan dan pembinaan, perizinan PIRT (Dinas Kesehatan), Standarisasi kemasan (plastik pangan ketebalan 0,07 -0,1 mm), pelabelan (merk, komposisi), sertifikat halal (2019 harus ada label halal) sudah dibentuk lembaga yang mengurusi kehalalan produk, hak merk yang dimiliki oleh usaha itu saja tidak boleh terdouble usaha lain, OSS. Kerajinan ada dekranasda visinya adalah memajukan kerajinan daerah  (hari ini ada pelatihan untuk anyaman pirik)

 3.     Tanggapan dan saran dari seluruh peserta FGD adalah sebagai berikut :

a. Bapak Arief Link –B
Salah satu kendala adalah pemasaran, selain pameran, bagaimana agar produk UKM bisa dipakai pemda (Sasirangan, Alat peraga pendidikan, anyaman bamban dan bambu, hasil hutan, dan obat herbal, olahan pangan) dan kalau bisa ada aturan/ regulasi yang mengatur.

b. Bapak Junaidi – DPMPD
Keberadaan Bumdes, di tahun 2019 desa akan menyertakan modal di Bumdes, sehingga bisa ada usaha-usaha yang dikelola/ didanai Bumdes. Harga mahal disebabkan karena bahan baku yang mahal, sehingga perlu menggunakan bahan baku lokal di desa, Keuntungan yang ditetapkan jangan terlalu besar namun yang penting adalah perputaran barang dan uang yang lebih cepat.

c. Bapak Hamdani – Dinas Pariwisata
7 sapta pesona pariwisata, kenangan yang terakhir yakni kerajinan di Halong, gelang sipai, bakul yang belum difinishing dan dikemas baik. Kolaborasi antara SKPD pariwisata, Perindustrian, Link B, Bumdes.

d. Ibu Yuri CSR Adaro
Adaro sangat support dengan pertumbuhan ekonomi/ usaha-usaha baru sebagai salah satu program Adaro juga. Mulai 2 tahun terakhir ada program PT. Adaro Indonesia melalui Link-B yakni Spectapreneur sudah 243 UMKM mendaftar. permasalahannya adalah adaro hanya bisa memberikan pelatihan, pembinaan, tataran teknis, pemasaran. Ada kebijakan tertulis mengenai penggunaan produk-produk lokal daerah. Merumuskan produk khas/ unggulan lokal. Apakah hanya menggunakan bahan baku lokal/ menggunakan bahan lokal namun tidak ada ditempat lokal, perlu adanya guidance untuk menentukan produk unggulan lokal Balangan

e. Bapak Mulyadi Dinas Pengendalian penduduk dan KB
Bidang Pembinaan keluarga  (bagaimana meningkatkan perekonomian keluarga), sejauh ini perannya dalam pengembangan ekonomi lokal adalah dengan memasarkan pada event-event acara, pameran. Karena sebenarnya produk Balangan sudah dikenal orang

f.  Bapak Riyadi MD Brata Dinas Kominfo
Pemasaran – promosi – kemasan, bagaimana cara membuat kemasan yang cemerlang. UKM tergabung satu kesatuan dengan balangankab.go.id untuk pemasaran online. Inovasi dari ukm untuk mempromosikan makanan ke kantor-kantor. Pembentukan forum beberapa SKPD untuk mendiskusikan dan merumuskan penyelesaian permasalahan yang dibutuhkan pelaku UKM.

g.  Dinas Kesehatan
PIRT untuk UKM bidang Makanan, biasanya pelaku usaha membawa label, kemasan, sampel. Baru-baru ini adalah madu kalulut. yang diinginkan pelaku usahanya langsung dan mengisi formulir. Penomoran PIRT, beda kemasan beda kode. Kendala adalah penentuan komposisi. Penyuluhan keamanan pangan, terutama untuk pengolah sendiri, dilakukan survei untuk melihat langsung pembuatan pangan, apakah dari segi kemananan terpenuhi. Sertifikat perijinan PIRT dikeluarkan dan ditandatangani Bupati, namun masih belum jelas peraturannya masih bisa didikeluarkan sertifikat PIRT yang bertandatangan Kepala Dinas Kesehatan.

h.  Ibu Lina Dinas Perdagangan
Melibatkan pelaku usahanya langsung dalam kegiatan promosi, tidak produknya saja yang dibawa, lebih pada untuk memberikan informasi. Perlunya mengemas produk dan teknik pemasaran yang persuasif sehingga orang tertarik.

i.   Ibu Erna YABN
Sudah ada pembagian kerja, YABN tidak masuk ke UMKM, pendampingan kepada masyarakat Adat – Desa Liyu 2012- sekarang, pembinaan lembaga adat, sanggar, sekarang perekonomian kelompok perempuan adat. Awalnya memang memakai pewarna kimia, liyu ternyata punya potensi hutan untuk sumber-sumber pewarna alami. Tantangan adalah pemasaran karena jarak nya relatif jauh 1 jam dari Kota Paringin dan sulit sinyal. Pemasaran lewat dinas, karena pemasaran online terkendala telekomunikasi, motif tameng –motif dayak. Belajar membuat baju kain potun, sedang diteliti oleh ULM, bisa digunakan untuk apa saja selain kostum adat. Berlatih ukuran dayak, karena sulit mendatangkan pelatih pengukir.  Asap cair untuk pembeku lateks dari Desa Hujan Mas Kalahiang, sekarang sudah ada 2 alat, dan produknya sudah diterima pabrik. 

j.  Bapak Hadi - Gundul
Belum menerapkan manajemen stok bahan baku, masih mencari keluar daerah apabila bahan baku langka; rencana diversifikasi produk sirup cempedak (terkendala dengan penyediaan daya listrik lemari es penyimpan), kalau bisa ada listrik subsidi bagi IKM. permasalahan UMKM
-Pemasaran kurang
-Peralatan produksi masih manual
-Bantuan masih kurang
-Biaya pengemasan mahal
Peratalan yang dibutuhkan : listrik, blender, lemari es/ freezer

k. Tanggapan Bapak Muklis
program restrukturisasi mesin, pemerintah memberikan pengembalian harga 20-35% dari harga alat. Mengadakan studi banding biaya Adaro, perlu adanya penyesuaian antara peserta dengan locus dan tema studi banding sesuai.

l.  Bapak Akhriani
20-30% dari dana perbankan harus dikucurkan oleh perbankan untuk usaha kecil daerah. Sedangkan BNI tidak mau mengambil resiko untuk memberikan pinjaman bagi usaha kecil karena ketakutan kredit macet. Bumdes, KUR, BPR ada namun belum ada koordinasi dengan sumber pendanaan. Karena yang penting dari pinjaman adalah adanya agunan.

4. Dapat ditarik benang merah dan rekomendasi sebagai berikut :
a. Sinergitas dan kolaborasi dalam satu komitmen untuk mengembangan UMKM Balangan.
b. Regulasi dari pemerintah daerah untuk memanfaatkan produk lokal dalam operasionalisasi dan event besar SKPD.
c. Pembentukan tim pecepatan UMKM tataran teknis es.3 untuk membahas dan merumuskan strategi percepatan pengembangan UMKM.
d. Pemda membantu melewati SKPD terkait dan mitra kerja perusahaan dalam hal pemasaran, permodalan dan peralatan dan pengemasan untuk meningkatkan kualitas kuantitas produk UMKM .


  Hits (27)    Waktu :18-01-2019 (10:09:45)   Komentar (0)

Komentar
Alamat Email
Komentar

Tidak ada komentar
Hal