Selasa, 23-10-2018,  

Home   Pengumuman  Foto  Video  Situs Terkait  Kritik & Saran  Kontak


  Ikuti kami di Selamat datang di website Balitbangda Kabupaten Balangan
 
0 1 2


Foto Kegiatan


Bank Data


Download Center

Berita dan Kegiatan


Ekspose Laporan Akhir Kajian Fasilitasi Produksi dan Harga Karet di Kabupaten Balangan

Acara ekspose laporan akhir kajian fasilitasi produksi dan harga karet di Kabupaten Balangan dilaksanakan pada Kamis, 07 Nopember 2017 di Ruang Rapat Balitbangda Kabupaten Balangan. Acara dibuka oleh Kepala Balitbangda Dr. Akhriani, S.Pd, M.AP dengan narasumber dari tim LPPM yang terdiri dari Prof. Dr. Ahmad Alim Bachri, SE, M.Si, Dr. Ir. M. Anshar Nur, MM, Dr. Kadir Drs.M.Si, Ak, CA, Dodi Setiadi, S.Si, M.Si, dan Dr. Nordiansyah.

Adapun undangan yang hadir adalah dari unsur BPP Kecamatan, Supervisor BPP Kecamatan, Dinas Perkebunan, Dinas Perdagangan, Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Poktan, Pedagang Besar Karet dan UPPB di Kabupaten Balangan

Acara diawali dengan paparan narasumber yakni Prof Alim yang menginformasikan mengenai:

a.    Latar belakang pekerjaan ini adalah panjangnya rantai pemasaran, pemasaran hasil karet ke pengepul dan pabrik karet di sekitar Balangan, perlunya pengembangan agribisnis karet. Tujuan dari pekerjaan ini adalah mengetahui dan menganalisis rantai distribusi pemasaran karet alam dari petani ke pabrik pengolahan; mengetahui dan menganalisis biaya-biaya pengelolaan karet alam rakyat; dan mengidentifikasi serta menganalisis harga karet yang ada selama ini.

b.    Dengan mengasumsikan satu keluarga petani karet dengan 1 istri dan 2 anak maka diperoleh hasil 84.840 jiwa penduduk Kabupaten Balangan, sekitar 80% dari seluruh penduduk Balangan menggantungkan kehidupannya dari sektor perkebunan karet. Walaupun kontribusi ekonomi terbesar adalah sektor pertambangan, namun serapan tenaga kerja terbesar adalah sektor pertanian khususnya perkebunan. Sehingga kedepannya arahnya perkebunan adalah pada intensifikasi pertanian. Selain itu disparitas/ kesenjangan di Kabupaten Balangan cukup tinggi. Walaupun luas produksi karet di indonesia jauh lebih tinggi dari Thailand produktivitasnya kurang lebih sama. Produktivitas perkebunan di Balangan dibawah produksi perkebuan karet nasional. Ada faktor apa yang bisa menyebabkan hal tersebut. Kontribusi perkebunan rakyat 80% an, perkebunan 7%. Sentra produksi karet nasional adalah Sumatera Selatan

c.    Margin keuntungan bagi petani adalah cukup besar yakni Rp. 10.978-Rp7.668 rupiah yakni Rp. 3.310 yang seharusnya bisa dinikmati petani dengan pembangunan pabrik atau mengaktifkan koperasi, karena akan memperpendek rantai distribusi pemasaran karet. Sehingga harga jual petani bisa tinggi di kisaran Rp.9.000 rupiah.

d.    Kabupaten Balangan dinilai strategis untuk mendirikan pabrik pengolahan karet (karena diapit dua kabupaten yakni HST dan Tabalong dengan produksi karet cukup besar).

e.    Ditampilkan pohon industri karet menampilkan semua komponen pohon karet dan jenis pengolahan yang memungkinkan. Getah karet, biji karet dan kayu karet bisa dimanfaatkan.

f.     Hasil temuan lapangan dari 150 orang responden yang diambil, diantaranya adalah

ü  usia responden kita yang sebagian besar produktif memungkinkan produktivitas kita berada di atas rata-rata nasional, 83,3% tidak memiliki pekerjaan selain petani karet.

ü  Dari sisi pendidikan 21% bisa dididik menjadi petani pilot project, untuk pengembangan dan penyebar luasan bagi petani-petani di tingkat pendidikan dibawahnya.

ü  Pengalaman petani karet logikanya semakin banyak/ lama semakin banyak produktivitasnya karena sudah ada transfer ilmu pengetahuan.

ü  Pendapatan petani karet tergolong rendah, 1,3% saja pendapatan 7,5 jt – 12,5 Jt, sedangkan masih ada 16% petani karet dengan pendapatan rendah yakni 176 - 900rb.

ü  Dari segi hasil panen masih sedikit petani yang memiliki hasil panen tinggi. Untuk menstabilkan harga maka industri harus ada disini.

ü  Jenis bantuan yang dibutuhkan dan diharapkan petani adalah pupuk dan bibit

ü  Program pemerintah yang diharapkan oleh petani adalah pendirian koperasi hingga hasil panen bisa dibeli koperasi dengan harga wajar, pemberdayaan dan pelatihan pengolahan karet agar menghasilkan kualitas yang baik.

g.    Dari 5 jalur distribusi, hanya 4% petani yang bisa menual langsung ke pabrik pengolahan karet, sisanya senesar 96% harus melalui rantai distribusi yang panjang, hal ini menunjukkan akses pasar petani masih sangat rendah. Semakin panjang rantai (Banjarmasin, Palangkaraya hingga ke Pontianak) maka semakin rendah harga beli karet, kecuali dibangun pabrik karet di Balangan jadi sangat memangkas mata rantai pemasaran, dan harga jual petani bisa tinggi. Selain itu dengan mengaktifkan koperasi atau perusda hingga paling tidak karet bisa dibeli dari petani dengan harga 8-9 ribu dan dijual ke pabrik dengan harga 10 rb.

h.    Didukung dengan regulasi yakni Rencana Induk Pengembangan Industri Daerah (RIPID) Provinsi Kalsel di 2015-2019 direncanakan ada 5 jenis produksi karet, tahun 2020-2025 ada 6 jenis produksi karet dan tahun 2026-2030 ada 7 jenis produksi karet.

i.     Demikian paparan tersebut perlunya kita melihat peluang pengelolaan karet di dunia, selama ini kita dininabobokan dengan mengekspor karet mentah, di asia harga karet per kilogram 20.000 an di balangan sekitar 5.000, 4 kali lipat lebih tinggi.  Kesempatan industri karet di Indonesia sangat besar, karena sebanyak 2 jutaan ton karet mentah di eksport. Yang dimanfaatkan 514 ribu saja. Dunia masih membutuhkan karet indonesia karena dari segi permintaan masih sangat besar.

Dilanjutkan dengan sesi tanya jawab

a.    Bp. Kris PPL

-    80% penduduk Balangan dari sektor karet, namun margin keuntungan yang bisa didapatkan petani cukup besar, ada wacana pembangunan pabrik namun sampai sekarang belum ada realisasinya. Kendala adalah di pembiayaan untuk merawat dan menghasilkan tanaman yang berkualitas, rencana definitif kebutuhan pupuk

b.    Bp Muliansyah dari Bidang Perkebunan

Sekedar informasi 17.500 harga jual di Banjarmasin, harga di pengepul 6.300-7.500. UPPB menjual ke banjarmasin, palangkaraya dan pontianak. 1.500/ kg. Kalau pakai pickup akan rugi, sebaiknya pakai truk. UPPB yang dibina langsung Dinas Perkebunan Provinsi. Kemampuan kabupaten adalah belum mampu S3B10  namun setara asap cair, yang tingkat susutnya besar, dan ada pengaruhnya ke tanaman. 7 ton lebih deorub, bahkan mencapai 20 ton, karakteristik masyarakat tidak suka memeli namun lebih suka apabila gratis dan subsidi pemerintah.

c.    Rencana pembangunan pabrik tahun 2008 sudah sampai dengan perijinan namun harus terhenti karena adanya protes dari persatuan pengusaha karet sehingga dicabut. Karena kondisinya sudah berubah, sangat memungkinkan mengambil peluang pembangunan industri

d.    Pak Supardi (Kepala BPP Tebing Tinggi) bisa sharing mengenai pengolahan biji karet dari ULM karena di Sragen bisa dimakan biji karet. Bisa dijadikan riset kandungan dari biji karet, dan digunakan sebagai alternatif camilan

e.    Bu Rusdiana

Seharusnya terus memantau harga karet, dan memang dibenarkan oleh Dinas Perkebunan bahwa selama ini sudah didata harga keret di tingkat petani sampai dengan industri per bulan direkap dan dilaporkan.

 

Implikasi Kebijakan dari pekerjaan ini adalah

a.    Kebijakan tentang alokasi anggaran yang tepat dalam rangka peningkatan dan pengembangan perkebunan karet rakyat perlu mendapat perhatian yang serius dan mendapatkan perioritas pembangunan dalam bidang pertanian

b.    Harga karet di Kabupaten Balangan pada tingkat petani masih dibawah harga pokok produksi, maka diperlukana kebijakan yang tepat oleh pemerintah daerah untuk memfasilitasi antara petani dengan pabrik pengolahan karet sehingga masyarakat petani karet di Kabupaten Balangan memiliki posisi tawar yang kuat dalam hal pemasaran karet.

c.    Pendirian lembaga yang dapat mewadahi petani karet di Kabupaten Balangan untuk menjaga kestabilan harga, berimplikasi terhadap penyiapan sumberdaya yang tepat, baik SDM maupun sumberdaya sarana dan prasarana dengan kualitas yang baik.

d.    Suntikan dana dari berbagai pihak yang terkait seperti anggota koperasi, pemerintah daerah, perusahaan, dan sumber dana lainnya menjadi sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup lembaga tersebut.

e.    Transparansi dan akuntabilitas menjadi bagian dari komitmen manajemen lembaga untuk dapat memberikan jaminan kualitas pengelolaannya.

f.     Pemerintah daerah bersama-sama dengan masyarakat petani karet secara terus-menerus menjalin kerjasama yang baik dengan para pengusaha bidang pengolahan karet untuk selalu memberikan kontribusi yang saling menguntungkan sebagaimana layaknya hubungan baik antara produsen dan konsumen.

 

Rekomendasi dari penelitian ini adalah

a.    Diperlukan langkah nyata dari pemerintah darah Kabupaten Balangan untuk mencari solusi yang tepat dalam memfasilitasi petani karet memasarkan hasil karet dalam menjaga kestabilan harga.

b.    Menindaklanjuti harapan masyarakat petani karet yang begitu besar untuk membentuk suatu lembaga berupa koperasi.

c.    Diperlukan kesiapan semua pihak baik dari pemerintah daerah maupun petani karet untuk meningkatkan kualitas sumber daya agar koperasi yang diidamkan oleh masyarakat dapat berjalan dengan baik sehingga mendapat jaminan bahwa lembaga tersebut mampu mengakomodir keinginan petani karet selama ini.

d.    Perusahaan pengolahan karet melalui pendekatan yang tepat oleh pemerintah daerah diharapkan memberikan kontribusinya untuk ikut serta dalam membina petani karet di Kabupaten Balangan sehingga terjalin sinergi antara petani karet sebagai produsen dan perusahaan sebagai konsumen untuk meningkatkan pendapatan.

e.    Koordinasi sangat diperlukan kepada instansi terkait untuk memberikan perioritas yang tinggi dalam pengalokasian anggara sehubungan dengana pemberdayaan petani karet untuk selalu meningkatkan kualitas produksinya agar mampu meningkatkan posisi tawar dengan perusahaan pengolahan karet.


  Hits (199)    Waktu :01-02-2018 (13:59:33)   Komentar (0)

Komentar
Alamat Email
Komentar

Tidak ada komentar
Hal